Hay Milenial, Jangan Sesekali Malas Membaca

Arus informasi tidak dapat dihindari dari kehidupan masyarakat. Perkembangannya bertambah pesat dan beragam. Kehadiran teknologi turut meningkatkan aktivitas masyarakat terhadap informasi. Namun, untuk dapat beradaptasi dengan teknologi informasi diperlukan kemampuan literasi informasi dan digital sebagai modal bersaing di tengah ledakan informasi.Masyarakat literasi merupakan pendukung efektif bagi berkembangnya budaya belajar. Itulah esensi lain dari perpustakaan yang tidak sekedar berfungsi sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi agen perubahan (agent of change) bagi masyarakat. Keberadaan perpustakaan sangat diharapkan untuk dapat berperan sebagai mitra kolaborasi pengembangan modernisasi masyarakat.

Namun, kondisi semacam tersebut hanya bisa ditemui ketika masyarakat memiliki budaya literasi yang kuat. Dalam perspektif itulah, perpustakaan berperan sebagai institusi pelopor gerakan literasi.

“Bangsa dengan kemampuan literasi yang tinggi adalah bangsa yang menjadikan perpustakaan sebagai institusi terpenting yang mempunyai peran sentral dalam membangun literate society. Dalam konteks ini, perpustakaan harus dijadikan wahana pembelajaran bersama untuk mengembangkan potensi masyarakat,” terang Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi pada Webinar Penguatan Budaya Literasi Dalam Mendukung SDM Manusia Kompeten, Unggul, dan Produktif, Jumat, (5/11/2021).

Senada dengan Perpusnas, Direktur Politeknik Internasional Bali Anastasia Sulistyawati turut menyuarakan pentingnya literasi untuk pengembangan kualitas bangsa.

Indonesia diperkirakan mengalami bonus demografi pada 2030 mendatang. Bonus demografi merupakan kondisi sumber daya manusia produktif (15-65 tahun) di suatu bangsa lebih mendominasi wajah penduduk. Fenomena ini di satu sisi mengerek sejumlah keuntungan bagi perekonomian Indonesia. Namun, di sisi lain menghasilkan tantangan serius.

Duta Baca Indonesia (DBI) Gol A Gong mengutip hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, bahwa ada dua tantangan serius yang mesti diselesaikan seiring bonus demografi yang akan terjadi terkait sumber daya manusia yang kompetitif.

Pertama, mayoritas masyarakat saat ini berpendidikan rendah. Tenaga kerja Indonesia sebagian besar hanya berlulusan sekolah menengah, bahkan ada yang lebih rendah sehingga berakibat pada produktivitas dan daya saing yang rendah juga. Kedua, mayoritas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri sehingga sulit untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas.

Hal ini makin diperkuat dengan pernyataan yang pernah disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan kalau Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Tahun 2019, berada pada nilai 51,5 (sangat rendah). IPP adalah tolok ukur capaian-capaian kepemudaan di bidang lima dasar, yakni pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepepimpinan, serta gender dan diskriminasi.

“IPP Indonesia di level ASEAN berada di urutan ke-7. Dan secara global menempati peringkat 138 dari 183 dunia, dibawah Myanmar dan Laos. Ini merupakan PR besar,” jelas Gol A Gong.

Sementara itu, narasumber lain, mantan Miss Indonesia 2015 dan News Anchor SEA Today, Maria Harfanti, menambahkan keberadaan internet sangat mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan. Di balik kemudahan ada dampak bagi generasi muda, seperti mudah terisolasi karena belum paham batasan-batasan. Penggunaan internet dan perkembangan teknologi mengubah tuntutan zaman.

“Segala hal berlangsung cepat wajib untuk beradaptasi. Ini yang disebut dengan disrupsi. Disrupsi menuntut pengguna untuk melakukan perubahan sejalan dengan tuntutan teknologi. Apabila tidak beradaptasi maka akan tertinggal jauh,” ucap Maria.
Namun, Maria mengingatkan dalam pengetahuan literasi digital pemanfaatannya harus tepat dan bijak.[]