Jababeka Morotai Teken MoU dengan OISCA International, Bangun Training Centre dan Fasilitas Pendukung

PT Jababeka Morotai kembali melakukan MoU dengan OISCA International College Foundation (OISCA International) untuk pembangunan pusat pelatihan dan fasilitas pendukungnya/DiksiDaily

Pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara adalah spot wisata sejarah yang menyimpan begitu banyak kisah perjuangan bangsa ini, terutama jejek perang dunia ke-2 yang mempertemukan Jepang dan Amerika Serikat bersama sekutunya.

Saat masih dikuasai Kesultanan Ternate pada abad 15-16, kehidupan di Morotai sangat harmonis. Namun setelah penjajah mencium posisi Morotai yang strategis sebagai pangkalan perang, kisah panjang sejarah Morotai itu dimulai, dengan hadirnya Portugis pada akhir abad ke-16.

Setelah Portugis pergi kala diusir paksa Sultan Ternate selama bertahun-tahun, Morotai masih tetap menggiurkan untuk dijadikan pangkalan militer, khususnya untuk armada laut dan udara. Jepang lalu memanfaatkan itu, dalam konfrontasinya dengan Amerika Serikat.

Morotai menjadi makin populer karena di pulau inilah, seorang Jenderal dan Marsekal Lapangan Bintang Lima asal Amerika, Douglas MacArthur akhirnya terbunuh.

Kini, Morotai adalah spot wisata menakjubkan dan langka, punya Indonesia. Langka karena selain keindahan alam dari rentetan pulau-pulau kecil yang bertebaran di atas permukaan laut, sisa-sisa perang dunia ke-2 yang menjadi koleksinya, menadikan Morotai sangat unik.

Selain patung Douglas MacArthur setinggi 20 meter berdiri di sana, tak sedikit tempat di morotai, hingga hari ini masih teronggok sisa-sisa perang seperti tank amphibi, kendaraan lapis baja, bangkai pesawat tempur, meriam, motrir, dan tak sedikit tentara dari Jepang dan Amerika yang akhirnya gugur di Morotai.

Semua peninggalan itu dengan mudah ditemukan di perairan dangkal, hingga di darat, dan tak sedikit yang sudah digali dari dalam tanah untuk dimuseumkan.

Kisah sejarah itulah yang membuat Morotai masuk sebagai satu dari 10 Bali Baru, prioritas pemerintah untuk membangun infranstrukturnya agar layak untuk akses wisatawan dalam dan luar negeri, termasuk untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Morotai.

Usai melakukan penandatangan kerjasama (MoU) beberapa waktu lalu mengenai pembangunan Monumen Perang Dunia II, PT Jababeka Morotai kembali melakukan MoU dengan OISCA International College Foundation (OISCA  International) untuk pembangunan pusat pelatihan dan fasilitas pendukungnya. Dengan terjadinya penandatangan MoU ini, menunjukkan kuatnya komitmen Jababeka Morotai dalam membantu memajukan Pulau Morotai, khususnya untuk memjukan perekonomian masyarakat.

Adapun penandatangan MoU ini dilakukan oleh Direktur Utama PT Jababeka Morotai, Basuri Tjahaja Purnama dengan Kuroda Yunosuke selaku chairman dari Oisca International di Board of Directors Room, lantai 25, Menara Batavia- Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Pasca penandatangan MoU ini, pihak Jababeka Morotai akan menyediakan lokasi, lahan, mengurus segala perizinan untuk pembangunan pusat pelatihan dan fasilitas pendukung. Sementara OISCA International bertanggung jawab untuk membangun training center beserta fasilitas penunjang lainnya.

Yunosuke selaku chairman dari OISCA International, mengaku antusias terhadap proyek ini dan berharap bisa memulai proyek ini secepatnya. Ia bercerita bahwa dirinya sudah menyusun framework kerjasama ini agar kedua belah pihak memiliki satu persepsi.

Pengembangan proyek ini akan dilakukan dengan 3 fase, yaitu fase pertama itu terkait pengembangan monumen Perang Dunia II dan training centre, fase kedua yaitu pengembangan aneka jenis tanaman untuk pertanian, fase ketiga itu pengembangan biomassa.

“Tahap kedua kita akan bikin sekolah IOSCA, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah kejuruan. Dan itu di sekolah itu akan dibuat club, karena di Jepang itu guru wajib ada club, seperti judo, kendo, dan lain-lain. Jadi, murid nggak diam-bingung setelah belajar di sekolah. Untuk pembangunan pertanian, kami akan menyediakan sayuran itu 30 jenis, dan buah buah 15-an jenis. itu semua organik, dan akan juga diajarkan teknik hydroponik,” terang Yunosuke.

Dengan komprehensifnya proyek tersebut dan dibukanya rute Bali-Morotai-Hongkong, Yonosuke pun berharap kerjasama ini bisa menjadi tempat bertemu para pebisnis untuk saling bertukar informasi. Sehingga nanti bisa menciptakan bisnis baru ke depannya, seperti ekspor produk dari yang dibuat Pulau Morotai. Alhasil, kata Yunosuke, bisnis yang dikembangkan di Pulau Morotai bisa berjalan lebih lancar.

“Tak lupa, dalam proyek ini kami akan membuat desa bernuansa Jepang untuk bisa tourism dan juga orang Jepang bisa stay,” tambahnya.

Mendengar hal itu, Basuri Tjahaja Purnama, berharap proyek tersebut bisa terealisasi dengan cepat dan berjalan lancar. Karena pada prinsipnya, Jababeka Morotai — salah satu anak usaha dari Jababeka Group, siap memenuhi kebutuhan yang diminta oleh pihak OISCA International.

Lebih dalam, ia menerangkan bahwa jika lancar, proyek ini akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Pulau Morotai. Sebagaimana tujuan awal dari training centre dan fasilitas penunjang, yaitu sebagai tempat pengembangan sumber daya manusia atau skill masyarakat lokal. Sehingga bisa nantinya membuat mesin pertanian, bercocok tanam, lalu produknya diekspor keluar negeri, salah satunya ke Jepang.

Untuk proyek ini, kata Basuri, Jababeka Morotai menyediakan lahan total seluas 12 hektar, yaitu 2 hektar untuk pembangunan pusat pelatihan dan 10 hektar untuk fasilitas penunjang.

“Hal itu adalah bentuk komitmen kami ingin memajukan Morotai. Mohon doa dan support-nya agar proyek ini bisa berjalan lancar, karena kalau lancar maka bisa meningkatkan perekonomian Pulau Morotai,” tutupnya.[]