Kali Kedua, HerStory Apresiasi Wanita Pemimpin Perusaahan Inspiratif

Susi Pudjiastuti, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019, pun menyambut baik gelaran acara E-Awarding Herstory: Indonesia Most Powerful Women Awards 2022: Empowering Women, Inspiring Change/DiksiDaily

Dewasa ini keterlibatan wanita di dunia kerja sangatlah penting diwujudkan terutama dalam meningkatkan kesetaraan gender di lingkungan profesional. Dan, perusahaan pun harus turut menjunjung serta menciptakan budaya inklusif yang memang bisa menghargai pendapat dan juga nilai-nilai yang dimiliki setiap individu.

Nah, untuk bisa mencapai kesetaraan gender tersebut, tentunya perusahaan pun perlu peran aktif dari seluruh pihak untuk bisa menciptakan kebudayaan kesetaraan gender yang mendukung wanita untuk dapat berkembang, dan tentunya berkreasi di dunia kerja.

Namun, meski telah menerapkan berbagai program kesetaraan gender di lingkungan kerja, perusahaan di Indonesia pun dituntut untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam mempromosikan budaya kolaboratif dan juga bisa memberikan exposure yang memang lebih besar untuk karyawan wanita, dan tentunya juga upah yang sesuai untuk pekerjaan yang setara dengan pria.

Untuk mewujudkannya, peran wanita, terutama para pemimpin wanita pun dirasa memang sangat penting, terutama dalam menumbuhkan kesetaraan gender yang bisa mendorong budaya lingkungan kerja inklusif. Selain itu, tentunya lebih jauh lagi peran pemimpin wanita ini juga dapat menopang pertumbuhan ekonomi dan juga pengembangan potensi pemulihan ekonomi nasional untuk lebih cepat terlaksana.

Oleh karena itu HerStory pun memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pemimpin wanita yang dengan konsisten melakukan inovasi, adaptasi, bahkan pengembangan bisnis dalam kegiatan perusahaan yang melindungi melalui penghargaan perusahaan melalui penghargaan Indonesia Most Powerful Women Awards 2022: Empowering Women, Inspiring Change.

Fyi Beauty, penghargaan pada tahun ini merupakan penghargaan kedua kalinya yang diberikan HerStory kepada para wanita yang terus melakukan inovasi dan perkembangan di setiap sektor industri.

Adapun, tema Empowering Women, Inspiring Change ini dipilih karena peran wanita terutama sebagai seorang pemimpin dapat memberikan kontribusi pada peningkatan lingkungan kerja yang inklusif dan pengembangan potensi wanita yang lebih maksimal.

Pemimpin Redaksi HerStory, Clara Aprilia Sukandar, menuturkan bahwa berdasarkan laporan tahunan Grant Thornton Women In Business 2021 yang berfokus pada peran wanita dalam upaya tanggap dan pemulihan Covid-19 di berbagai belahan dunia, menunjukan bahwa manajemen senior wanita dari perusahaan di seluruh dunia jumlahnya meningkat menjadi 31%.

Adapun, sejalan dengan laporan tahun lalu, tahun ini Grant Thornton Women In Business 2022 juga menunjukkan peningkatan dengan jumlah wanita di posisi terdepan di dunia meningkat 1 poin menjadi 32% pada tahun 2022.

“Jadi, di tengah kondisi pandemi yang masih terjadi hingga saat ini, nyatanya ada kabar baik yang dapat kita petik. Yakni, berdasarkan laporan Grand Thorton, persentase wanita Indonesia yang menduduki posisi manajemen senior di Indonesia mengalami peningkatan, yakni meningkat 1 poin menjadi 32% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni 31%,” tutur Clara, saat acara acara E-Awarding Herstory: Indonesia Most Powerful Women Awards 2022: Empowering Women, Inspiring Change, yang digelar secara virtual, Senin (25/4/2022).

Dikatakan Clara, meskipun tampaknya tak ada hubungan langsung antara pandemi dan kesetaraan gender, namun dinamika perubahan yang terjadi dapat membuktikan bahwa pandemi dua tahun belakangan menunjukkan pandemi Covid-19 secara tidak langsung mempengaruhi kesetaraan gender.

“Meskipun tampaknya tidak ada dampak langsung dari Covid-19 terhadap perubahan di perusahaan, namun ternyata kalau dilihat lagi Covid-19 ini sangat mempengaruhi kesetaraan gender di berbagai aspek,” imbuh Clara.

Clara berujar, perubahan lingkungan kerja selama pandemi menguntungkan jalur karir wanita dalam jangka panjang. Berbagai pertimbangan, dinamika kesempatan kerja yang berubah karena pandemi memiliki dampak positif bagi perkembangan wanita dalam dunia profesional, sehingga mampu memberikan ruang kontribusi lebih yang dapat dilakukan wanita.

“Walaupun pandemi memberikan tekanan yang lebih besar jika dibandingkan dengan sebelum pandemi, karir perempuan ini ternyata ada yang diuntungkan. Salah satunya adalah diberlakukannya sistem WFH. Para wanita dapat lebih fleksibel mengurus pekerjaan di kantor secara remote, dan juga pekerjaan rumah tangganya,” paparnya.

Clara bilang, tak hanya secara global, peran pemimpin wanita di Indonesia juga berperan aktif dalam mengembangkan potensinya dalam dunia kerja. Terlihat dari hasil survei Grant Thornton yang menyatakan adanya peningkatan jumlah wanita yang menempati senior management sebanyak 3 poin di angka 38% dibanding tahun 2021.

Clara melanjutkan, laporan ini juga menempatkan Indonesia di peringkat kelima sebagai negara dengan posisi manajemen senior wanita paling banyak secara global. Hal ini menunjukkan peran perusahaan Indonesia untuk terus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesetaraan gender dan menciptakan budaya inklusif, terutama untuk para wanita Indonesia.

Namun, tak bisa dipungkiri, peningkatan inklusivitas dan kesetaraan wanita dalam dunia kerja belum bisa dinikmati oleh mayoritas wanita itu sendiri. Kenaikan jumlah wanita dalam level manajemen senior ternyata tak sejalan atau tak sebanding dengan peningkatan kesetaraan wanita secara lebih general.

Dalam bidang formal, kata Clara, persentase wanita pekerja memang masih berada jauh di bawah pekerja pria. Laporan terakhir pada tahun 2021, hanya ada 36,2% wanita yang bekerja di sektor formal. Padahal, kontribusi angkatan kerja wanita ini secara langsung akan signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ke arah yang positif. Semakin tinggi kontribusi angkatan kerja wanita sebenarnya pertumbuhan ekonomi pun akan semakin tinggi.

Sementara itu, hal berbeda ternyata tampak dari persentase pekerja informal. Di sektor informal, ternyata pekerja wanita lebih unggul, lebih banyak dibandingkan pria, yakni mencapai 63,8%. Namun sayangnya, meski persentase pekerja wanita di bidang informal ini lebih tinggi, mereka tetap memiliki ancaman dan tetap mendapatkan tantangan dalam dunia kerja. Salah satunya adalah belum meratanya kesetaraan gender.

“Pada Maret 2020 lalu tepatnya di tengah pandemi saat kasus sedang tinggi-tingginya, ada sebanyak 32 ribu pekerja imigran yang di rumahkan, yang mana mayoritasnya mereka adalah perempuan. Ini adalah merupakan salah satu tanda bahwa diskriminasi gender masih banyak terjadi,” kata Clara.

“Untuk itu, para powerfull women yang menerima penghargaan dari Herstory kali ini, para wanita hebat yang memiliki jabatan strategis, sejatinya adalah salah satu harapan bagi wanita lain untuk bisa lebih sejahtera, lebih mendapatkan keadilan dan kesetaraan di dunia kerja, lewat lapangan pekerjaan yang aman dan juga women solidarity, woman support woman,” lanjut Clara.

Sementara itu, Muhammad Ihsan, selaku CEO dan Founder Herstory, mengaku bersyukur karena seiring perkembangan zaman dan narasi-narasi kesetaraan yang terus digaungkan, pada gilirannya menunjukkan hasil positif, yakni ada berbagai peningkatan peran wanita di berbagai bidang.

Menurut Ihsan, pergerakan wanita yang positif itu tentunya tak bisa dilepaskan dalam gejolak revolusi, salah satunya tentunya revolusi digitalisasi.

“Dimana dalam digitalisasi ini kita melihat bahwa tak ada lagi hambatan fisik untuk menjadi pemimpin, karena dalam dunia software ini sebetulnya baik pria  maupun wanita bisa dalam posisi sejajar atau istilahnya netral gender, karena industri dalam bidang digitalisasi kita akan memasuki platform demokratisasi dan yang sifatnya emansipatoris. Jadi, siapa saja, dimana saja dan kapan saja bisa masuk ke sana,” tuturnya.

Ihsan pun berharap, gelombang dari digitalisasi ini akan mampu turut mendorong kemajuan kaum wanita Indonesia menuju posisi yang lebih baik lagi.

“Terlebih, belum lama ini pemerintah baru saja mengesahkan Undang-undang TPKS atau UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang selama ini menjadi hantu di kampus terutama, dan kemudian di tempat-tempat lain, sehingga dengan adanya UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual ini diharapkan kaum wanita jauh lebih terlindungi lagi,” ujar Ihsan.

Lebih lanjut, Ihsan menuturkan bahwa meski ada beberapa kemajuan-kemajuan yang terjadi, namun tak bisa dipungkiri bahwa saat ini masih banyak PR kesetaraan gender baik secara nasional maupun internasional.“Terutama di negara-negara di kawasan Timur Tengah misalnya, dimana posisi wanita masih mengkhawatirkan. Tentu saja, ini merupakan PR dari kita bersama dan oleh karena itu sekali lagi Herstory akan terus berkembang. Kami akan terus berekspansi bukan hanya dalam bentuk media, bidang riset kami sedang memikirkan berbagai program-program, berbagai perusahaan perusahaan yang akan terus dikembangkan, karena kami percaya bahwa kesetaraan gender bukan hanya membawa kebaikan bagi wanita, tapi juga sekaligus membawa kebaikan bagi pria. Artinya kesetaraan gender akan membawa kebaikan bagi kita semua,” tandas Ihsan.

Di kesempatan yang sama, Susi Pudjiastuti, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019, pun menyambut baik gelaran acara E-Awarding Herstory: Indonesia Most Powerful Women Awards 2022: Empowering Women, Inspiring Change yang digelar HerStory kali ini.

Susi berujar, apresiasi kepada pemimpin wanita Indonesia ini sangat betul dibutuhkan, karena untuk meng-encourage lebih banyak wanita atas achievement-nya, atas kreativitasnya, dan tentu atas semua energi yang telah diberikan para wanita ini kepada pembangunan ekonomi dari bangsa dan tentunya keluarga si wanita itu sendiri.

“Saya juga mengucapkan selamat untuk yang memenangkan penghargaan Indonesia Most Powerful Women Award 2022 ini, semoga dengan prestasi dari award ini para pemimpin perusahaan wanita ini bisa terus semakin bersemangat untuk walking more, doing more, encouraging more people, terutama more women,” imbuh Susi.

Susi beranggapan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk Indonesia bisa melaju di depan. Ia pun berharap, dunia industri dan bisnis saat ini harus sudah menyadari pentingnya keberadaan wanita di pucuk pimpinan.

“Nah barangkali ini yang harus dilakukan, selain kita encouraging para wanita, kita juga harus encouraging para pria atau Bapak-bapak yang memimpin perusahaan, yang memimpin kantor-kantor apapun itu, dari birokrasi dan juga non-government organisasi, juga bisnis, untuk lebih mempercayakan role-role pekerjaan di kantornya kepada para wanita. Para pria, para Bapak-bapak itu sebaiknya bisa giving trust, giving task, dan giving position for women to play a big role, karena itu benefitnya jauh lebih besar,” tegas Susi.

Susi juga menuturkan, pada dasarnya wanita itu memiliki kelebihan menjalankan dual roles, yakni dalam berkarir sekaligus menjadi pengurus rumah tangga, di mana hal itu menggambarkan bahwa wanita memiliki pandangan yang lebih mendetail dibandingkan pria.

“Kita bisa menjalankan berbagai peran, seperti sebagai wanita karir, ibu rumah tangga, bos dari perusahaan, dan lain sebagainya untuk menyeimbangkan urusan dalam membagi waktu kerja dan mengurus rumah tangga. Wanita itu lebih punya keahlian untuk switching dan mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Itu kelebihan kita. Dan sebaiknya kita kasih lihat itu sama Bapak-bapak di perusahaan, bahwa wanita its doing better,” kata Susi.

“Jadi sebetulnya kesetaraan just do it that you can show them, you can work, sama dengan para pria. Saya yakin opportunity kepada wanita itu akan datang. Tentu dengan encouragement dan pendidikan atau kursus-kursus yang terus-menerus bisa diberikan kepada para wanita Indonesia,” sambung Susi.

Kemudian, Susi pun mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi wanita dalam dunia kerja adalah lebih kepada keluarganya sendiri. Menurutnya, salah satu hal yang penting untuk membuat atau melahirkan wanita-wanita hebat itu sendiri adalah dengan mensosialisasikan dan mendidik keluarga untuk mengerti bahwa anak-anak perempuan di dalam keluarga juga harus diperlakukan, diberikan kesempatan yang sama dengan anak-anak laki-lakinya.

“Saya percaya kalau dari publik itu tidak terlalu banyak yang banyak challenge, yang banyak challenge tentu saya pikir keluarga itu sendiri. Kadang-kadang diskriminasi, bukan dari hal negative, tapi kadang-kadang positif, karena orang tua tuh sayang sama anak perempuan. Anak perempuan tidak boleh ini, tidak boleh itu, because the want to protect them more. Nah mungkin ini yang harus kita sosialisasikan. Anak perempuan itu sama dengan anak laki-laki. Beri mereka kesempatan sama, tanggung jawab sama, jadi mereka dari dalam keluarga sudah belajar untuk memiliki tanggung jawab sama dan bisa mengerjakan hal yang sama,” pesan Susi.

“Jadi, keluarga itu harus menjadi salah satu tujuan dalam meng-encouraging society, meng-encouraging lingkungan untuk mulai berubah pandang dan cara terhadap kiprah para wanita di Indonesia,” lanjut Susi.

Terakhir, Susi pun berharap, pelaksanaan Indonesia Most Powerful Women Awards 2022: Empowering Women, Inspiring Change ini dapat berkontribusi dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita untuk masyarakat Indonesia yang lebih inklusif, dan untuk Indonesia yang lebih baik.

“Pesan saya kepada para pemenang penghargaan ini, jadikan award ini untuk memacu para wanita, bukan hanya Anda, tapi di sekeliling Anda, dan tularkan kehebatan Anda kepada wanita-wanita lainnya di luaran sana. Kemudian untuk Warta Ekonomi saya berharap program ini terus dilanjutkan, karena kalau wanita bisa melakukan kegiatan ekonomi, benefitnya untuk masyarakat akan lebih besar. Dan, untuk HerStory, continue your program untuk mencari dan mengapresiasi para Indonesia Most Powerfull Women, dan semoga program ini terus-menerus ada. One more time, congratulation untuk semuanya,” pungkas Susi.[]