Pengelolaan Pupuk Bersubsidi Kementan Diapresiasi Positif

Ilustrasi pupuk bersubsidi dari Kementan/DiksiDaily

Pengelolaan pupuk bersubsidi yang dilakukan Kementerian Pertanian, mendapat apresiasi dari Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti. Menurutnya, pengelolaan pupuk subsidi sudah baik.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, Kementan memberikan perhatian serius terhadap pupuk bersubsidi.

“Lewat pupuk subsidi, kita berupaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Oleh karena itu, kita terus memperbaiki data dan pola distribusi pupuk bersubsidi,” katanya, Jumat, (14/5/2021).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, menjelaskan lebih lanjut mengenai pupuk bersubsidi. Menurut Sarwo Edhy, pupuk bersubsidi tidak hanya diharapkan bisa berdampak pada peningkatan produktivitas.

“Tetapi juga meningkatkan produksi pangan dan komoditas pertanian, melindungi petani dari gejolak harga pupuk, mendorong penerapan pemupukan berimbang, juga memberikan jaminan ketersediaan pupuk,” katanya.

Sedangkan Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, menilai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pengelolaan pupuk bersubsidi yang dilakukan Kementerian Pertanian selama ini sudah berjalan baik.

“Kita patut untuk memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah berusaha untuk mewujudkan ketersediaan pupuk yang berkualitas bagi petani,” katanya.

Prof. Sucihatiningsih mengatakan, alokasi kebutuhan pokok dalam pembagian tugas terkait pupuk subsidi yang dilakukan Kementan, mampu tingkatkan produktivitas pertanian.

Berdasarkan hasil kajian Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), peningkatan subsidi pupuk rata-rata sebesar 14,18% per tahun selama 2005-2016 mampu meningkatkan produktivitas padi nasional rata-rata sebesar 1,31% per tahun.

“Kementerian Pertanian sebagai instansi yang paling dekat dengan petani tentu memiliki peranan penting bagi produktivitas pertanian,” ujarnya.

Oleh karenanya, Kementan perlu memetakan kebutuhan apa saja yang ada di lapangan terutama kebutuhan pokok dalam input produksi pertanian.[]