Perpusnas Press Dorong Terbangunnya Ekosistem Penulis di Yogyakarta

Menapaki usia ketiga, penerbit Perpusnas Press mengajak para penulis, pustakawan, pegiat literasi, mahasiswa dan masyarakat umum di Yogyakarta untuk menuangkan gagasan dan pemikiran positifnya dalam bentuk buku.

Karya-karya tersebut nantinya akan diterbitkan oleh penerbit Perpustakaan Nasional RI, Perpusnas Press, yang kemudian disebarluaskan ke masyarakat sebagai bagian dari upaya penguatan literasi.

Hal ini disampaikan Pemimpin Redaksi Perpusnas Press, Edi Wiyono, dalam sosialisasi dan promosi Perpusnas Press yang diselenggarakan di Yogyakarta, pada Kamis (23/6/2022). Kegiatan tersebut mengusung tema Tulis, Terbit, Sebarkan.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk lebih mendekatkan dan mengenalkan tentang Perpusnas Press ke masyarakat, sekaligus sebagai upaya untuk menjaring penulis-penulis daerah, khususnya Yogyakarta. Karena sesungguhnya kemampuan menulis seseorang yang dapat dikonversikan menjadi buku adalah bagian terpenting dari literasi,” ujarnya.

Keberadaan Perpusnas Press diharapkan dapat mendorong terbangunnya ekosistem penulis di daerah dengan melahirkan para penulis untuk menghadirkan bahan bacaan. Buku sebagai sebuah karya, membutuhkan proses atau siklus yang saling berhubungan.

“Setelah membaca proses berikutnya adalah mengkritisi informasi dan pengetahuan yang tersaji, kemudian menuangkan kembali dalam gagasan-gagasan baru dalam bentuk tulisan. Dari tulisan inilah dikonversikan menjadi buku untuk kemudian diterbitkan dan disebarluaskan ke masyarakat,” urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Monika Nur Lastiyani, menjelaskan perpustakaan memiliki peran dalam mendukung terciptanya ekosistem kepenulisan di Yogyakarta.

“Berbagai langkah dan kegiatan telah dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip dengan berbagai peran yang telah dilakukan, seperti kegiatan-kegiatan bimtek penulisan, bedah buku di desa-desa, dengan dampak yang dirasakan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya baca untuk peningkatan kualitas hidup,” ungkapnya.

Meski begitu, dia mengakui terdapat kendala dan tantangan dalam upaya mendukung ekosistem penulis di Yogyakarta yakni data, kolaborasi dan teknologi informasi. Dalam hal data, diakui bahwa saat ini belum tersedia data jumlah penulis berdasarkan wilayah. Dalam hal kolaborasi, belum terjalinnya kolaborasi antarpihak yang berkepentingan.

Sedangkan dalam pendekatan teknologi informasi, menurutnya, ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi informasi dapat memudahkan manusia menulis, tetapi di sisi lain dapat menurunkan daya baca masyarakat.

Dukungan penciptaan ekosistem kepenulisan juga datang dari dunia media. Salah satunya berasal dari media terbesar di Yogyakarya, yaitu Harian Jogja. Sebagai upaya memberikan penguatan kepenulisan kepada para peserta sosialisasi, Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono, berbagi pengalaman dengan jurus-jurus jitu menulis opini di media dan menyusun press release agar tembus dan diterbitkan.

Anton menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa opini yang ditulis dan dikirimkan ke media, sering kali ditolak atau tidak lolos. “Isi tulisan tidak jelas, isinya tidak fokus, ngalor ngidul. Temanya tidak kontekstual atau relevan. Tidak solutif, tidak ada ide baru di tulisan itu. Kesimpulannya tidak ada. Tulisan tidak orisinal atau hanya plagiat,” terang Anton yang juga menjabat Ketua AMSI Yogyakarta.

Dari sisi kebijakan redaksi, Harian Jogja akan membuka kesempatan dan peluang untuk penulis atau masyarakat terkait opini-opini tentang literasi, perpustakaan dan kepustakawan. Hal ini dinyatakan sebagai respons atas pertanyaan peserta, yang melihat keberpihakan media terhadap isu-isu perpustakaan, masih minim.

Salah satu program yang dijalankan Perpusnas Press dalam menjaring penulis di Indonesia adalah Inkubator Literasi Pustaka Nasional. Hadir sebagai narasumber sosialisasi, salah satu penulis Inkubator Literasi Pustaka Nasional Tahun 2020, Yosef Kelik. Dia berbagi pengalaman proses yang dilalui hingga dapat masuk 15 penulis terbaik dengan karyanya yang dibukukan dengan judul Inovasi Pustakawan Untuk Indonesia Maju.

“Inkubator Literasi sebagai salah satu kegiatan kepenulisan memberikan dampak yang sangat baik buat saya dalam menyalurkan gagasan dan pendapat saya,” tuturnya.

Selain itu, dia membawakan materi tentang buku marwahnya, juga kekayaan data dan informasi di dalamnya. “Menurut pendapat saya, marwah buku dan ketertarikan orang untuk membaca akan lebih dapat terjaga jika orang-orang punya kemudahan akses terhadap buku dan berbagai data-data yang dibutuhkan, menarik dan relevan untuk publik,” katanya.

Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan secara onsite dengan peserta 50 orang yang berasal dari dinas perpustakaan, Forum TBM, Ikatan Pustakawan Indonesia, Atupsi, GPMB, mahasiswa, penerbit, media, dan komunitas pegiat literasi.[]