Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional Perja Kerja Sama

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI memperkuat kolaborasi dan kerja sama dengan Arsip Nasional RI (ANRI), salah satunya dengan rencana membuat akses terintegrasi antara kedua instansi.

Wadah terintegrasi ini diharapkan mempermudah masyarakat untuk mengakses arsip dan bahan pustaka dalam waktu bersamaan. Kepala ANRI Imam Gunarto menyatakan kolaborasi mesti dilakukan karena kedua instansi layaknya dua mesin pesawat yang dapat berfungsi secara optimal apabila melakukan banyak hal, secara bersama.

Imam Gunarto juga meminta Perpusnas agar seiring sejalan dalam mengakuisisi arsip dan naskah kuno yang ada di dalam maupun luar negeri. Menurutnya, naskah kuno sebagai peninggalan budaya harus dijaga dan dilestarikan agar tidak diakui oleh negara lain pada kemudian hari.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyambut baik ajakan ini. Baginya, setiap kementerian/lembaga harus berkolaborasi guna menciptakan terobosan yang lebih baik. “Karena semua yang disampaikan pak Imam adalah tugas negara yang harus dicermati dan dibijaksanai,” ungkapnya dalam audiensi dengan Kepala ANRI beserta jajarannya di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, pada Rabu (22/9/2021).

Untuk memudahkan koordinasi antara dua instansi, Syarif Bando mengusulkan pembuatan surat keputusan (SK) bersama perihal peningkatan kinerja antara Perpusnas dan ANRI. Hal ini untuk memudahkan masyarakat dalam membedakan tugas dan fungsi Perpusnas maupun ANRI, serta untuk melegitimasi keberadaan negara tanpa dibatasi oleh status kelembagaan.

Dalam waktu dekat, ANRI akan menyelenggarakan Pekan Memori Dunia yang mengangkat tentang Hikayat Aceh. Diceritakan lebih lanjut bahwa di Aceh, ANRI tengah membangun pusat studi kebencanaan. Dalam hal ini, arsip Tsunami Aceh yang ditetapkan sebagai salah satu Memory of the World (MoW) akan dijadikan sebagai bahan studi.

Sebagai upaya penguatan MoW tersebut, Imam Gunarto meminta dukungan langsung kepada Perpusnas. Sebelumnya, pihaknya sudah meminta dukungan dari pemerintah Aceh. “Tugas utama ANRI di Aceh adalah membangun pusat studi kebencanaan, untuk itu kami mohon dukungan, penguatan, dan pengkayaan dari sisi perpustakaan dari Perpusnas,” pinta Imam.

Imam Gunarto juga meminta Perpusnas melakukan pembinaan ke daerah bersama dengan pihaknya. Hal ini merespons kondisi di daerah, di mana ranah perpustakaan dan arsip digabung menjadi satu yakni dinas perpustakaan dan kearsipan daerah. Baik Perpusnas maupun ANRI sudah memiliki standar kompetensi untuk kepala dinas dan pejabat struktural di dinas perpustakaan dan kearsipan daerah.

Namun, tetap diperlukan penyelarasan antara kedua standar kompetensi tersebut. Kelak hasil dari penyelasaran tersebut bisa digunakan sebagai acuan kepala daerah saat melakukan promosi dan penempatan untuk pejabat daerah di bidang perpustakaan dan kearsipan.

“Standar kompetensi ini sangat penting untuk disusun bersama sebagai upaya dalam menjaga kualitas penyelenggaraan perpustakaan dan kearsipan di daerah,” jelas Imam.

Kolaborasi antara Perpusnas dan ANRI ini merupakan upaya penguatan jalinan kerja sama dalam nota kesepahaman yang dimulai sejak 2019.[]