Populix: Ketika Masyarakat Pesimis akan Usainya Pandemi

Protokol kesehatan di destinasi Lombok | DiksiDaily

Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Betapa tidak, harapan masyarakat akan usainya pandemi yang kini telah memasuki bulan ke-10 seolah mulai melemah. 

Semakin tingginya jumlah penderita dan meningkatnya angka kematian yang disebabkan oleh virus corona membuat sebagian masyarakat gamang. Ditambah dengan kabar munculnya varian baru dan mutasi dari COVID-19. Kontan, terjadi banyak perubahan tren dan kebiasaan baru yang terjadi di tengah masyarakat. 

Populix, platform market research yang menjadi rujukan pelaku usaha dalam mencari tahu kebutuhan pasar dengan jutaan responden di seluruh Indonesia, melakukan survei terhadap 700 responden yang terdiri 57% perempuan dan 43% laki-laki.

Meski masyarakat kini mulai keluar dari ‘rasa takut’ berlebihan, pada saat yang sama mereka kurang yakin akan kemungkinan tidak tertular virus tersebut. Terlihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan masker ketika di luar rumah.

Hingga akhir November 2020, kesadaran masyarakat akan penggunaan masker sebagai bagian dari protokol kesehatan meningkat. Dari data yang diperoleh, pada Maret 2020 tercatat 52% responden menyatakan diri selalu menggunakan masker saat keluar rumah. Jumlah tersebut meningkat pada akhir November 2020 menjadi 84% dari total responden.

Uniknya, protokol kesehatan lainnya seperti mencuci tangan dan penggunaan hand sanitizer justru berkurang. Pada bulan Maret 2020, sebanyak 74% responden mengaku selalu mencuci tangan. Angka tersebut kemudian turun 2% pada bulan November 2020. Begitu pula penggunaan hand sanitizer, turun 1% dari total 52% suara responden pada periode yang sama.

Saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan trending tagar #dirumahsaja, Populix menangkap perubahan pada pola pembelian dan konsumsi masyarakat. Hingga akhir November 2020, masker dan multivitamin menjadi salah satu kebutuhan yang didahulukan di antara kebutuhan lain. 

“Dari survei yang kami lakukan, 56% responden mendahulukan anggaran belanjanya untuk membeli masker. Sementara, 39% responden menyatakan lebih sering membeli multivitamin dan obat-obatan selama berlangsungnya pandemi,” beber Jessica Gautama, Head of Marketing Populix dalam keterangan resminya belum lama ini.

Sementara, perubahan pada konsumsi makanan ditandai dengan meningkatnya kegiatan memasak di rumah. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya angka pembelian bumbu dapur dan minyak goreng. 

Selain memasak, kebiasaan lain yang juga berubah aktivitas memanjakan diri. Populix menemukan ada 9 dari 10 orang berupaya lebih ekstra dalam memanjakan diri selama pandemi.

“Setidaknya, ada lima cara yang dilakukan orang untuk memanjakan diri di rumah,” ungkap Jessica.

Jumlah responden yang menyatakan diri mulai belajar memasak dan membuat kue sebagai cara memanjakan diri di rumah mencapai 67%. Sedangkan belanja online terbukti efektif menjadi pelipur lara bagi para shopaholic. Angkanya mencapai 55% dari keseluruhan responden.  

Makan dan minum yang manis-manis, merawat kulit, serta menikmati channel hiburan via streaming adalah tiga cara lain yang juga menjadi pilihan masyarakat dalam memanjakan diri. Angkanya masing-masing mencapai 36%, 31% dan 26% dari keseluruhan responden. 

“Alasan masyarakat bertahan di rumah saja bermacam-macam. Umumnya, mereka melakukan hal tersebut untuk mengurangi pengeluaran jika situasi pandemi ini masih berlangsung dan keadaan ekonomi semakin memburuk,” tutup Jessica. 

Andre Purwanto Alkemangi | Jurnalis, Videographer, Musisi, Penggiat Seni, Penggiat Alam dan Pedagang